BPDP Perkuat UMKM Sidoarjo, Olah Sawit hingga Kakao Jadi Produk Bernilai Tinggi
Upaya mendorong hilirisasi komoditas perkebunan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Politeknik LPP melalui program pengembangan kewirausahaan berbasis UMKM di Sidoarjo (foto dok BPDP)

BPDP Perkuat UMKM Sidoarjo, Olah Sawit hingga Kakao Jadi Produk Bernilai Tinggi

BPDP bersama Politeknik LPP melatih 100 peserta di Sidoarjo mengolah komoditas perkebunan menjadi produk bernilai tambah, dorong hilirisasi dan daya saing UMKM.

TIMES Sidoarjo,Jumat 1 Mei 2026, 10:06 WIB
516
R
Rudi Mulya

SIDOARJOUpaya mendorong hilirisasi komoditas perkebunan kini menyasar level usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggandeng Politeknik LPP menggelar pelatihan kewirausahaan di Sidoarjo untuk mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti 60 pelaku UMKM dan 40 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Program ini menjadi bagian dari strategi penguatan UMKM yang selama ini menopang sekitar 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan terkait peran strategis komoditas perkebunan dalam perekonomian nasional. Materi disampaikan oleh perwakilan BPDP Helmi Muhansah, Politeknik LPP Azhari Rizal, Dinas Koperasi dan UKM Mohammad Edi Kurniadi, serta akademisi Umsida Poppy Diana Sari.

Helmi Muhansah dalam pemaparannya menegaskan bahwa komoditas seperti kelapa sawit memberikan kontribusi ekspor hingga puluhan miliar dolar AS setiap tahun. Sementara kakao dan kelapa dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk makanan, minuman, hingga kebutuhan kesehatan dan kosmetik.

Selain penguatan wawasan, peserta juga dibekali strategi branding dan pengembangan usaha. Aspek ini dinilai krusial karena produk UMKM kini tidak hanya bersaing di pasar lokal, tetapi juga berpeluang masuk ke pasar digital yang terus berkembang.

Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut ke praktik langsung pembuatan produk turunan. Peserta dilatih memproduksi lilin aromaterapi, car freshener, serta minuman cokelat berbasis krimer sawit. Tahap ini menjadi implementasi konkret hilirisasi, di mana komoditas mentah diolah menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Kegiatan praktik didampingi tim Unit Pengembangan Institusi (UPI) Politeknik LPP Yogyakarta, yang memberikan asistensi teknis mulai dari proses produksi hingga pengemasan. Diskusi interaktif antara peserta dan pendamping berlangsung intens, mencerminkan tingginya minat terhadap peluang usaha berbasis komoditas perkebunan.

Sakti, anggota tim UPI, menyatakan bahwa penguatan UMKM merupakan bagian penting dari strategi nasional hilirisasi dan pemerataan ekonomi.

“Hilirisasi tidak hanya dilakukan oleh industri besar. UMKM harus menjadi bagian dari rantai nilai. Jika ini berjalan, dampaknya bukan hanya peningkatan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga kontribusi nyata terhadap ekonomi daerah dan nasional,” ujarnya kepada TIMES Indonesia, Jumat (1/5/2026).

Ia menambahkan, peningkatan daya saing UMKM perlu dilakukan secara menyeluruh, mencakup kualitas produk, branding, kemasan, hingga pemasaran digital.

“Dengan strategi yang tepat, produk UMKM berpotensi menembus pasar yang lebih luas, termasuk ekspor,” katanya.

Sementara itu, Helmi Muhansah menegaskan bahwa transformasi UMKM menuju produk olahan menjadi peluang besar di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap produk bernilai tambah.

“Ketika UMKM mampu mengolah komoditas menjadi produk jadi, nilai ekonominya bisa meningkat signifikan. Ini menjadi peluang besar, seiring tren konsumen yang mulai mencari produk alami, berkelanjutan, dan berbasis lokal,” jelasnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Salah satu pelaku UMKM mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru dalam mengembangkan usaha, terutama dalam mengolah bahan sederhana menjadi produk bernilai tinggi.

Keterlibatan mahasiswa dalam program ini juga dinilai penting untuk mendorong inovasi. Kolaborasi antara akademisi dan pelaku UMKM diyakini dapat mempercepat transfer teknologi sederhana yang aplikatif di lapangan.

Ke depan, BPDP berencana memperluas model pelatihan serupa ke berbagai daerah dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem UMKM sekaligus mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan agar memberi dampak ekonomi yang lebih luas. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Rudi Mulya
|
Editor:Wahyu Nurdiyanto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Sidoarjo, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.