Dinilai Visioner dan Pemersatu, PMII Jatim Sebut KH Asep Saifuddin Figur Tepat Jadi Rais Aam PBNU di Muktamar 2026
PMII Jawa Timur menilai Kiai Asep sebagai figur ulama visioner dan pemersatu yang dinilai mampu membawa NU tetap kokoh.
Sidoarjo – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026, dukungan terhadap Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.Ag sebagai calon Rais Aam PBNU terus menguat.
Dukungan kali ini datang dari Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur menilai Kiai Asep sebagai figur ulama visioner dan pemersatu yang dinilai mampu membawa NU tetap kokoh menjaga tradisi keilmuan sekaligus menjawab tantangan zaman.
Ketua PKC PMII Jatim, Akiedo Zawa mengatakan, NU ke depan membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga pengalaman nyata dalam membangun kemandirian umat, khususnya melalui sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Menurut Edo, sapaan akrab Akiedo Zawa, rekam jejak Kiai Asep dalam membangun pesantren dan lembaga pendidikan menjadi bukti kuat komitmennya terhadap masa depan generasi Nahdliyyin.
“Kami melihat KH Asep Saifuddin Chalim sebagai salah satu ulama yang memiliki rekam jejak kuat dalam pengabdian kepada umat. Dedikasi beliau dalam membangun lembaga pendidikan dan pesantren menunjukkan komitmen besar terhadap masa depan generasi Nahdliyyin,” ujarnya kepada TIMES Indonesia, Senin (11/5/2026).
Edo menilai, pengalaman panjang Kiai Asep yang juga pengasuh Ponpes Amanatul Ummah di dunia pesantren menjadikannya figur yang relevan untuk memperkuat tradisi keilmuan di tubuh NU.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kepemimpinan ulama yang memiliki visi pendidikan dan mampu merangkul seluruh elemen warga Nahdliyyin dinilai sangat dibutuhkan.
“NU membutuhkan kepemimpinan ulama yang visioner, yang mampu menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah sekaligus mendorong kemajuan umat. Dalam pandangan kami, KH Asep memiliki kapasitas tersebut,” katanya.
Selain dikenal aktif membangun pendidikan, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim juga dinilai memiliki karakter kepemimpinan yang mampu menjadi perekat di tengah dinamika internal organisasi. Sosoknya dianggap dekat dengan kalangan pesantren dan mampu membangun komunikasi dengan berbagai kelompok di lingkungan Nahdlatul Ulama.
PMII Jatim berharap Muktamar NU 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi warga Nahdliyyin sekaligus mempertegas peran NU dalam kehidupan kebangsaan.
Organisasi mahasiswa Nahdliyyin itu menilai NU memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai-nilai Islam moderat, inklusif, dan berkeadaban di tengah perkembangan sosial nasional.
“Kami berharap Muktamar NU nanti melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa NU semakin kuat dalam menjaga tradisi keilmuan, memperjuangkan kemaslahatan umat, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” pungkas Edo. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

