60 Remaja di Sidoarjo Terinfeksi HIV, Pemkab Perkuat Edukasi Lewat Sidoarjo Youth Safeguard
Dinkes Sidoarjo mencatat 60 kasus HIV pada remaja usia 11-17 tahun (2001-Juni 2026). Pemkab Sidoarjo perkuat pencegahan lewat Sidoarjo Youth Safeguard 2026.
SIDOARJO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mencatat sebanyak 60 remaja berusia 11 hingga 17 tahun terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang periode 2001 hingga Juni 2026. Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan sejak usia sekolah selain upaya skrining dan pengobatan medis.
Sebagai langkah perlindungan bagi generasi muda, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo menggelar program Sidoarjo Youth Safeguard 2026 di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) pada Rabu (5/6/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinkes Sidoarjo, Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair), dan Umsida dengan melibatkan pelajar SMA dan SMK se-Kabupaten Sidoarjo.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyatakan bahwa edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pengenalan diri berperan vital dalam mencegah perilaku berisiko di kalangan remaja.
"Edukasi tentang seksual dan pengenalan diri para pelajar merupakan bentuk upaya melindungi generasi muda. Dengan bekal pengetahuan yang tepat, mereka diharapkan mampu menjaga diri dari perilaku berisiko, sekaligus teredukasi untuk tidak memberikan stigma kepada Orang dengan HIV (ODHIV)," ujar Lakhsmie.
Ia menjelaskan, berdasarkan data akumulatif Dinkes Sidoarjo sejak 2001 hingga Juni 2026, dari total 60 kasus HIV pada kelompok anak dan remaja, sebanyak tujuh orang meninggal dunia dan 53 orang lainnya hidup dengan HIV.
"Data ini bukan untuk menimbulkan ketakutan di masyarakat, melainkan dasar bagi kami untuk memperkuat upaya pencegahan. Bertambahnya temuan kasus juga menunjukkan semakin luasnya jangkauan skrining, sehingga masyarakat yang terinfeksi dapat segera memperoleh pengobatan," tegasnya.
Berdasarkan demografi kasus, Dinkes Sidoarjo mencatat kelompok usia di atas 24 tahun masih menjadi penyumbang terbanyak kasus HIV yang berkaitan dengan perilaku berisiko. Adapun kasus pada anak usia 0 hingga 10 tahun umumnya terjadi akibat penularan dari ibu ke anak.
Guna menekan angka penularan, Dinkes terus memperkuat skrining HIV berbasis siklus hidup. Langkah ini mencakup pemeriksaan ibu hamil melalui program triple eliminasi (HIV, sifilis, dan hepatitis B) hingga pemeriksaan dini pada bayi.
Lakhsmie juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai misinformasi terkait penularan HIV. Ia menegaskan, HIV tidak menular melalui kontak fisik harian seperti berjabat tangan, berpelukan, belajar bersama, berbagi makanan, penggunaan toilet bersama, maupun gigitan nyamuk.
"Penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu ke bayi jika tidak mendapat penanganan medis yang tepat," terangnya.
Pada kesempatan yang sama, Psikolog Pendidikan dan Keluarga Widji Lestari menambahkan bahwa pembentukan karakter merupakan benteng utama dalam membentengi remaja dari ancaman HIV. Dukungan dari lingkungan keluarga dan sekolah sangat diperlukan untuk menanamkan rasa percaya diri.
"Percaya diri dan berani berkata ’tidak’ merupakan benteng penting bagi remaja untuk menjaga diri dari hal yang berisiko merugikan diri sendiri dan orang lain," ujar Widji. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

