TIMES SIDOARJO, JAKARTA – Demonstrasi terus meluas di berbagai daerah Indonesia. Hal itu menyusul adanya insiden ojek online (ojol), Affan Kurniawan yang tewas dilindas kendaraan taktis Brimob Polri di Jakarta, Kamis (28/8/2025) kemarin.
Aksi ini jelas tak hanya merugikan masyarakat karena kerusakan fasilitas yang semakin parah. Namun juga akan berimbas pada ekonomi. Hal tersebut juga menjadi atensi dari Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pemula Sukses Indonesia (ASOPPSI), Rian.
"Kami di ASOPPSI memahami bahwa demonstrasi adalah bagian dari dinamika demokrasi. Namun, jika aksi ini berlangsung terus-menerus dan meluas, dampaknya sangat terasa bagi ekonomi rakyat, khususnya UMKM," katanya kepada TIMES Indonesia, Sabtu (30/8/2025).
Ia menyampaikan, dalam masalah tersebut, Indonesia jelas harus belajar dari krisis ekonomi 1998 saat Presiden Soeharto jatuh.
Dimana, gejolak sosial dan instabilitas politik membuat sektor usaha kecil dan menengah terpukul berat, banyak usaha gulung tikar karena konsumen menurun drastis, distribusi terhambat, dan kepercayaan pasar runtuh.
"Hari ini, UMKM kembali berada di garis depan menopang perekonomian nasional. Jika demonstrasi berlarut-larut, potensi kerugian bukan hanya dari sisi omzet harian, tetapi juga bisa menurunkan kepercayaan investor serta menghambat momentum pemulihan ekonomi rakyat pasca pandemi," jelasnya.
Karena itu, pihaknya berharap aspirasi masyatakat tetap bisa disuarakan melalui cara-cara yang damai dan dialog konstruktif, agar tidak mengulang luka ekonomi 1998 silam.
"Stabilitas sosial sangat penting agar UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional bisa terus bertahan dan berkembang," ujarnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Demonstrasi Meluas di Daerah, Ditakutkan Krisis Ekonomi Seperti 1998 Terulang Kembali
Pewarta | : Moh Ramli |
Editor | : Hendarmono Al Sidarto |